Skip to main content

Posts

pertemuan antar material dan manajemen konflik.

oh.. Begitu menyebalkan ketika   melintas di jalan Kenari dari arah barat ke timur. Menyebalkan karena di utara jalan pasti deret mobil parkir sehingga 2/5 dari separuh jalan diokupasi oleh mobil yang diam. Bukankah itu biasa? Okelah biasa, tapi yang membuat menyebalkan selanjutnya ialah jebakan jeglongan yang sepertinya sudah disiapkan dengan ciamik! Ada range jarak nyaman yang sebetulnya yang dapat dijadikan standar, jarak antara pinggir jalan dan posisi kendaraan roda dua yang melintas. Namun masalahnya zona nyaman tersebut sudah di okupasi sebagai lahan parkir. Jarak nyaman kemudian bergeser menengah. Sedangkan di jarak nyaman tersebut terdapat jeglongan lubang untuk drainase, sungguh menyebalkan! Mengapa menyebalkan? Ya jelas, jalan aspal yang tadinya mulus dilubangi, dan lubangnya tepat di atas jalan tanpa memperhitungkan kenyamanan. Pertanyaannya apakah tidak bisa membuat lubang drainase atau inspeksi tersebut di pinggir meski selokan bawah tanah te...

melihat yang lama secara baru

​artifak dari masa lalu selalu kita pandang dari masa kini. dan berbagai kepentingan ikut mewarnai cara kita memandang dan memanfaatkannya. bagi seorang ilmuwan, artifak atau barang dari masa lalu itu adalah jejak-jejak untuk ia membuat rekonstruksi imajiner mengenai suasana dan kondisi masa lalu di mana barang atau artifak itu pernah hadir. sabtu pagi 08 april 2017, mulai pukul 06:00 WIB kita akan sepedaan melihat bagaimana orang masa kini memperlakukan kampung, kota dan bangunan yang dibuat orang di masa lalu untuk kepentingan masa itu. namun yang kita lihat adalah yang telah mengalami perbaikan dan penyesuaian di masa kini. untuk dijadikan komoditas orang masa kini. kita perlu tahu masa lalu, namun janganlah itu menjerat kita hingga tidak bisa maju. dan jangan lupa, bersepeda itu pantang mundur: selalu bergerak maju! -- mahatmanto duta wacana

ngepit atau pit-pitan?

Ngepit atau pit-pitan? Ada judul serupa ditulis di kompasiana pada tahun 2015 , dan di tulis ulang di suatu blog pada 2016 . Tulisan tersebut menjelaskan beda ngepit dan pit - pitan yang kemudian menekankan pada kebijakan segosegawe yang direspon secara pit-pitan bukan ngepit seperti yang diharapkan pada semangat segosegawe. Segosegawe sudah punah tapi semangat ngepit atau pit-pitan tetap ada. Suatu hal unik, perulangan kata benda menjadi suatu kata kerja. Mobil-mobilan artinya mainan yang menyerupai mobil, omah-omahan berarti benda yang menyerupai rumah, sedangkan kata pit-pitan berarti kegiatan bersepeda. Setuju ya, arti ngepit dan pit-pitan itu sama bahwa dalam proses perpindahan tempat menggunakan moda transportasi sepeda, juga pasti setuju, nuansa kata ngepit lebih serius daripada nuansa kata pit-pitan. Saya sendiri lebih melihat ngepit dekat dengan kata travel to, sedangkan pit-pitan lebih dekat dengan kata journey. Ngepit mempunyai arti yang lebih dekat k...

keberpihakan : sebuah pilihan atau keharusan?

M engikuti perjalanan Duta Yantra selalu ada saja yang mengesankan untuk dibawa pulang. P erjalanan duta yantra kali ini (25032017) dengan tema 'dari kayu ke kayu'. S alah satu tujuannya kami menyambangi Rumah Kuwera karya Romo Mangun. Saat mendengarkan pengantar dari Pak Mahatmanta tentang Rumah Kuwera, salah satunya b ahwa karya Romo Mangun ini merupakan wujud keberpihakan beliau terhadap tukang. Rasanya residu-residu ingatan pada awal kuliah dulu serasa dibangkitkan kembali. 'K eberpihakan ' sebuah kata sederhana tapi sangat dalam artinya , sebuah kata yang lama tak [saya] dengar. ​ S etelah mendengar pengantar dari beliau kami pun dilepas untuk menyusuri ruang-ruang rumah K uwera. P engaturan ruang-ruang yang (orang jawa bilang) pating clekunik . R umit memang, selalu ada kejutan di setiap ruang . K ami disuguhi oleh keindahan detail, tektonika material, sambungan-sambungan struktur kayu yang 'tidak biasa', sungguh pengalaman ruang ...

tersesat di wisma kuwera

“Nek wong sing duwe short term memory elek, ning kene iso ra nemu dalan metu ki” Kalimat tersebut diungkapkan Rizal kepada saya setelah separuh jalan blusukan di dalam wisma Kuwera. Memang menurut saya, peletakan ruang yang ‘aneh’ pada bangunan tersebut memberikan potensi keblasuk bagi orang baru yang dibebaskan berkeliling semaunya di Kuwera. Haha… Tentunya sang perancang memiliki kemampuan spasial yang hebat! Pastinya.. Sejuk, dingin, hangat. Begitulah berbagai ruang yang terbentuk di wisma ini. Sejuk,  dapat mudah dirasakan di bagian ruang paling bawah dan ruang diatas dekat dengan bukaan. Hangat, tentunya nuansa yang di timbulkan oleh penggunaan elemen kayu, yang banyak digunakan dan sangat terasa di lantai atas. Lalu dingin? Dibawah tanah, yang konon katanya tempat untuk hening Romo Mangun jaman dulu. Perpaduan sejuk dan hangat merupakan ungkapan respon dari tropis. Karena di daerah tropis merupakan daerah yang tidak terlalu panas maupun dingin, maka...

sewindu duta yantra

Simbol angka delapan dapat dimaknai sesuatu yang tak terbatas, infinite. Pada sewindu Duta Yantra, diusung sebuah tema, dari bata ke bata. Terbata-bata memang diriku mengikuti penjelasan selama perjalanan. Terbata-bata dalam pikiran untuk menyusun supaya di otak ini memiliki akses mudah ketika pengetahuan yang didapat ini diperlukan kembali. Bagaikan susunan bata disusun, kemudian ditambahi susunan baru lagi diatas susunan yang lama. Atau kebutuhan menyusun susunan bata  yang memiliki luasan lebih  diletakan dibawah supaya dapat menopang susunan bata diatasnya. Atau juga supaya dapat berdiri dibutuhkan peletakan dengan bentuk tertentu, supaya susunan dengan bentuk tertentu dapat membuat susunan bata sebagai bidang tegak berdiri. Mengkonversi info, pengetahuan dan penjelasan baru ternyata melelahkan! Susunan bata, susunan jaman  Ada susunan bata lama yang di tambahi susunan baru di atasnya. Perpaduannya asik juga indah dan tentunya meninggalkan informasi bah...

ramai sebelum sepi

​ malam itu saya memang berniat untuk mendatangi pura  jagadnatha di banguntapan, tempat yang sering saya lewati kalau berangkat ke kantor bersepeda. tempat itu juga sering saya lewati kalau kami sekeluarga makan sepulang dari gereja: entah di warung bu komang , entah di bimakrodha. tapi malam itu saya tidak hanya melewatinya. saya memang ingin menikmati cara orang hindu di jawa dan bali menyambut tahun baru. dari situ saya hendak mengetahui cara mereka memaknai fenomen pergantian waktu dari lama ke baru. peralihan waktu itu membutuhkan kesepakatan, sebab dari mana kita tahu bahwa waktu sudah beralih? apa tanda-tandanya? bukankah waktu itu terlalu abstrak untuk dilihat, dipegang dirasakan dengan kelima indera tubuh kita? seringkali, waktu diumpamakan seperti angin atau air, dua elemen alam yang mampu mengalir. bedanya air dan angin, air punya sumber sebagai awalan dan punya muara sebagai akhiran. sedangkan angin? ia tidak jelas asalnya dan tidak pasti pula tuju...