2017-03-31

tersesat di wisma kuwera


“Nek wong sing duwe short term memory elek, ning kene iso ra nemu dalan metu ki”

Kalimat tersebut diungkapkan Rizal kepada saya setelah separuh jalan blusukan di dalam wisma Kuwera. Memang menurut saya, peletakan ruang yang ‘aneh’ pada bangunan tersebut memberikan potensi keblasuk bagi orang baru yang dibebaskan berkeliling semaunya di Kuwera. Haha…

Tentunya sang perancang memiliki kemampuan spasial yang hebat! Pastinya..

Sejuk, dingin, hangat.
Begitulah berbagai ruang yang terbentuk di wisma ini. Sejuk,  dapat mudah dirasakan di bagian ruang paling bawah dan ruang diatas dekat dengan bukaan. Hangat, tentunya nuansa yang di timbulkan oleh penggunaan elemen kayu, yang banyak digunakan dan sangat terasa di lantai atas. Lalu dingin? Dibawah tanah, yang konon katanya tempat untuk hening Romo Mangun jaman dulu.

Perpaduan sejuk dan hangat merupakan ungkapan respon dari tropis. Karena di daerah tropis merupakan daerah yang tidak terlalu panas maupun dingin, maka  sebenarnya kesejukan dan kehangatan sudah disediakan alam. Desain hanya menyaringnya, dan meletakkan kehangatan atau kesejukan tersebut dapat dirasakan di sisi tertentu.

Visual.
Manusia meletakkan diri di dalam bangunan. Manusia sebagai pengguna bangunan yang berada di dalam bangunan mempunyai porsi paliing sedikit melihat wajah bangunan yang ditempati. Tidak di wisma Kuwera. Banyak terjadi kontak visual dengan bangunan wisma yang bersebrangan atau karena perbedaan level. Yang terjadi? Pemandangan keluar bangunan banyak alternatifnya, visual yang tidak simetris membuat tidak mudah jenuh, perasaan segar yang selalu dijaga oleh kemenerusan visual yang terjadi pada bangunan.

Diskusi memutuskan jalan keluar

Kalem
Penggunaan elemen kayu dan elemen horizontal membuat nuansa kalem begitu kuat. Merupakan pengalaman ruang yang wah, wah bukan wah yang mewah tapi wah yang bikin kita tersenyum, nyantai, tidak kemrungsung. Tiap sudut bisa dinikmati dan diapresiasi. Karena tiap titik pertemuan antar kayu diolah menjadi suatu perayaan. Suatu perayaan tak ada habisnya untuk diapresiasi.

Perjumpaan manusia-dengan ruang dan ruang dengan ruang di olah dengan asik. Perjumpaan manusia dengan ruang, menjadi intim ketika langit-langit merendah. Perjumpaan ruang-dengan ruang menyajikan perpindahan yang mengalir.

Identifikasi
Bagaikan masuk ke dalam labirin. Ruangan di dalam wisma seperti bisa se-enanya difungsikan bila tidak ada elemen lain yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi. Ada kasurà kamar tidur, ada komputer dan buku à kantor.

Kedalaman dan luasan ruang juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi ruang. Ruang yang dalam dari pintu masuk utama, pastinya ruang yang lebih personal. Ruang yang luasannya besar fungsinya lebih umum. Perbedaan level lantai adalah pembeda tegas, namun di sisi barat, masih dimungkinkan terjadinya kontak visual dari ruang yang personal ke ruang yang lebih umum, meski aksesnya harus memutar. Semakin dalam dan semakin personal suatu ruang, tidak kemudian dari ruangan tersebut kita tidak mengidentifikasi ruangan lainnya. Tetap terbuka, teridentifikasi secara visual.


Jadi, belajar mengidentifikasi banyak hal dalam waktu yang singkat memerlukan kerja keras otak!



0 comments:

Post a Comment