2017-04-01

keberpihakan : sebuah pilihan atau keharusan?

Mengikuti perjalanan Duta Yantra selalu ada saja yang mengesankan untuk dibawa pulang. Perjalanan duta yantra kali ini (25032017) dengan tema 'dari kayu ke kayu'. Salah satu tujuannya kami menyambangi Rumah Kuwera karya Romo Mangun. Saat mendengarkan pengantar dari Pak Mahatmanta tentang Rumah Kuwera, salah satunya bahwa karya Romo Mangun ini merupakan wujud keberpihakan beliau terhadap tukang. Rasanya residu-residu ingatan pada awal kuliah dulu serasa dibangkitkan kembali. 'Keberpihakan' sebuah kata sederhana tapi sangat dalam artinya, sebuah kata yang lama tak [saya] dengar.


Setelah mendengar pengantar dari beliau kami pun dilepas untuk menyusuri ruang-ruang rumah Kuwera. Pengaturan ruang-ruang yang (orang jawa bilang) pating clekunik. Rumit memang, selalu ada kejutan di setiap ruang. Kami disuguhi oleh keindahan detail, tektonika material, sambungan-sambungan struktur kayu yang 'tidak biasa', sungguh pengalaman ruang yang mengesankan.
Jadi penasaran, merancang sebuah bangunan seperti menggunakan gambar rencana tidak ya..?  saya duga mungkin awalnya gambar sketsa konsep, dan semuanya banyak diselesaikan di lapangan. Tentu saja bekerjasama dengan pelaksana di lapangan yaitu tukang. Tukang yang notabene kadang dianggap seseorang yang kecil/wong cilik, tapi tidak dalam kasus rumah ini, disini tukang benar-benar 'diuwongke'.



Mengamati setiap detail di rumah Kuwera serasa kita merasakan dialog antara si perancang dengan tukang, bagaimana perancang dalam memperlakukan dan mengapresiasi material sesuai dengan karakter dan kodratnya. Pertemuan sudut-sudut ruang, pertemuan material yang berbeda semua disiasati dan diselesaikan dengan harmonis. Tentu saja hal ini menuntut kepekaan perancang terhadap karakter material, terhadap keunikan site, terhadap kemampuan si tukang, dan yang pasti perancang selalu terlibat dalam setiap prosesnya.


Sebagai perancang sering dihadapkan terhadap pilihan-pilihan : keberpihakan terhadap klien, terhadap tren yang lagi nge'hits, terhadap penguasa/si empunya regulasi, terhadap pelaksana/tukang, terhadap teknologi bahan, terhadap ego dari si perancang ataupun bahkan terhadap semesta. Ya, semua itu adalah pilihan. Mungkinkah semua keberpihakan itu terpenuhi dalam satu desain. Belajar dari ini semua keberpihakan terhadap sesuatu yang [sering dianggap] cilik, kaum papa, marjinal, terpinggirkan merupakan sebuah pilihan yang tidak mudah. Ada banyak hal berharga yang [mungkin harus] dipertaruhkan. Arsitektur untuk kemanusiaan, untuk siapa saja, dimana saja, untuk saat ini akankah menjadi tujuan bersama, sebuah keharusan, ataukah ini hanya sebuah pilihan..? sungguh merindukan perpaduan kehidupan yang harmonis. Bukankah hidup hendaknya bisa menjadi berkat untuk [orang] yang lain...? :)
-Jogja,01042017-

salam,
tutunseliari

0 comments:

Post a Comment