2017-03-29

ramai sebelum sepi


malam itu saya memang berniat untuk mendatangi pura jagadnatha di banguntapan, tempat yang sering saya lewati kalau berangkat ke kantor bersepeda.
tempat itu juga sering saya lewati kalau kami sekeluarga makan sepulang dari gereja: entah di warung bu komang, entah di bimakrodha.

tapi malam itu saya tidak hanya melewatinya.
saya memang ingin menikmati cara orang hindu di jawa dan bali menyambut tahun baru. dari situ saya hendak mengetahui cara mereka memaknai fenomen pergantian waktu dari lama ke baru.

peralihan waktu itu membutuhkan kesepakatan, sebab dari mana kita tahu bahwa waktu sudah beralih? apa tanda-tandanya? bukankah waktu itu terlalu abstrak untuk dilihat, dipegang dirasakan dengan kelima indera tubuh kita? seringkali, waktu diumpamakan seperti angin atau air, dua elemen alam yang mampu mengalir.

bedanya air dan angin, air punya sumber sebagai awalan dan punya muara sebagai akhiran. sedangkan angin? ia tidak jelas asalnya dan tidak pasti pula tujuannya, tapi yang jelas punya kekuatan.

sudah lama waktu diumpamakan sebagai kekuatan yang serupa angin. bahkan, ia dinamai sebagai kala, yang dalam ikonografi jawa dan bali divisualisasikan sebagai raksasa yang menakutkan. waktu -kala- adalah kekuatan yang hebat, misterius dan tidak bisa ditebak dari mana dan mau ke mana ia bergerak.

malam itu, pergantian waktu ditandai oleh selesainya segala kesibukan dan keramaian kehidupan. hidup adalah identik dengan kesibukan, dengan ramainya kegiatan kerja, yang penuh dengan persaingan, muslihat, taktik, akal-akalan dan berbagai jenis kontestasi yang kadang mengganggu pihak lain.

tahun yang baru, awal dari suatu periode waktu yang baru, hendak diawali dengan kesunyian, antagonis dari keramaian yang biasa dipentaskan dalam hidup seharian. berdiam ini butuh kesepakatan bersama karena berdiam dari segala aktivitas itu bisa mengganggu pihak lain bila tidak sama-sama menyepakati tindakan diam itu.

diam adalah tindakan yang bukan kerja, tindakan yang tidak menghasilkan apa-apa, tidak produktif. tapi itu tidak berarti bahwa diam tidak berguna. secara periodik kita diminta untuk berdiam, tidak ngapa-ngapain: dalam doa, dalam tidur, dalam rekreasi... semuanya adalah tindakan-tindakan yang tidak dimaksudkan untuk membuat sesuatu, tidak mengubah atau mengganggu alam di luar diri kita.

lama dan baru dalam waktu ternyata tidak hanya dimaknai sebagai dialog antara diam dan gerak, pasif dan aktif, namun juga dimaknai sebagai kontestasi antara yang baik melawan yang jahat: dharma melawan adharma.
dilibatkannya penilaian etis [baik vs jahat] membuat perubahan waktu jadi suatu keharusan, keniscayaan: sebab yang lama [jahat] harus dikalahkan dan digantikan dengan yang baru [baik].

maka, malam itu kami pun bergerak dari pura berarak mengelilingi kampung.
kampung, seringkali dimaknai sebagai dunia, replika dari seluruh dunia dalam ukuran lebih kecil. kami bergerak mengelilingi dunia.
adapun yang diarak secara beramai-ramai adalah visualisasi kejahatan berupa boneka besar yang dihias indah. dalam iringan gamelan yang semarak, arak-arakan ini memikat perhatian seluruh warga kampung. ada yang hanya menonton, tapi tidak sedikit pula yang ikut mengiringi perjalanan arak-arakan ini kembali ke pura.

di pura, di tempat kita tadi mengawali perarakan, lambang kejahatan tadi dihancurkan. dirusak, dan dibakar jadi debu...kejahatan sebesar itu sudah kita kalahkan!

acara yang berlangsung semarak dan ramai sekali itu harus diakhiri jelang tengah malam. sebab waktu-waktu selanjutnya kita akan memasuki aliran waktu yang baru. kita bersepakat bahwa titik nol waktu telah ditetapkan. dengan keheningan, tanpa aktivitas yang berupa karya.
waktu seperti dihentikan. sehari penuh.

dengan membuat kontras antara ramai dan sepi, maka saat teduh atau saat sunyi itu semakin intens dirasakan. oleh sebab itu menghayati nyepi, pada hemat saya, perlu juga dengan mengikuti keramaian saat-saat sebelumnya.

paling tidak, itu untuk pemula seperti saya, yang amat terbantu dalam menghayati nilai kesunyian dengan terlibat dalam keramaian.

terima kasih saudara-saudaraku umat hindu, yang telah mengajarkan kepada dunia tentang bagaimana dunia ini harus selalu bergerak maju, semakin baik dari pada sebelumnya.

mirip seperti kita bersepeda!


sehari setelah nyepi 2017
mahatmanto

0 comments:

Post a Comment