2017-04-05

pertemuan antar material dan manajemen konflik.



oh..
Begitu menyebalkan ketika  melintas di jalan Kenari dari arah barat ke timur. Menyebalkan karena di utara jalan pasti deret mobil parkir sehingga 2/5 dari separuh jalan diokupasi oleh mobil yang diam. Bukankah itu biasa? Okelah biasa, tapi yang membuat menyebalkan selanjutnya ialah jebakan jeglongan yang sepertinya sudah disiapkan dengan ciamik!

Ada range jarak nyaman yang sebetulnya yang dapat dijadikan standar, jarak antara pinggir jalan dan posisi kendaraan roda dua yang melintas. Namun masalahnya zona nyaman tersebut sudah di okupasi sebagai lahan parkir. Jarak nyaman kemudian bergeser menengah. Sedangkan di jarak nyaman tersebut terdapat jeglongan lubang untuk drainase, sungguh menyebalkan!

Mengapa menyebalkan? Ya jelas, jalan aspal yang tadinya mulus dilubangi, dan lubangnya tepat di atas jalan tanpa memperhitungkan kenyamanan. Pertanyaannya apakah tidak bisa membuat lubang drainase atau inspeksi tersebut di pinggir meski selokan bawah tanah tetap di bawah jalan aspal? Mengapa lubang harus di jalan, mengapa pula harus njeglong? Apakah tidak bisa membuat aspal dan jeruji lubang drainase sama levelnya?

Ya begitulah keadaannya..

gundah gulana
Memahami
Dua material yang berbeda membutuhkan pemahaman antar material yang oke untuk dapat disatukan. Oleh siapa? Oleh sang desainer dan pelaksana tentunya. Dapat terjadi dalam cetak biru, pertemuan antar material sudah terdesain baik tapi dalam pelaksanaannya amburadul. Mengingat tulisan Bu Tutun dalam artikel ini, bisa jadi keberpihakan terhadap pelaksana lapangan yang lemah. Ibarat kata; yang penting sudah disuruh atasan dan dilaksanakan serta proyek jadi. Reward tak seberapa dibanding usaha mereka berkerja di lapangan.

Okelah itu di kalangan pengambil keputusan pada level tinggi dan birokrasinya. Tapi ternyata masuk ke pinggir jalan, ke daerah yang lebih khusus, konflik antar material banyak terjadi. Aspal dengna trotoar, trotoar dengan tutup utilitas perkabelan perkotaan, juga keramik rumah yang bertemu dengan paving blok.

Tiap material mempunyai sifat dan ke-khasannya tersendiri. Mempunyai konteks ketika ditempatkan di lokasi tertentu. Mempunyai keunggulan di lokasi dan penempatan tertentu. Bila antar material bertemu, bisa terjadi sebuah perayaan, bisa terjadi sebuah pemaksaan.

Fungsi dan pemaksaan
Apakah perjumpaan antar material yang tidak terolah membuat fungsi tidak berjalan? Tentunya fungsi dapat tetap berjalan tanpa pemahaman material. Lebih penting dronjongan bisa dilalui, air bisa masuk got, aspal tetap jalan, toh kendaraan yang lewat juga bersuspensi (tepatnya: ranmor yang bersuspensi) sehingga perlakuan terhadap detail tidak terlalu bermasalah dengan aktivitas yang terjadi pada material tersebut.
ketika..
 Selain abai, ada juga yang sedikit ber-empati. Fungsi jalan, dengan empati ‘memperhalus’ perjumpaan antar material. Dengan apa? Mudah, murah (karena dipakai hanya sedikit pada pertemuan), dan dapat dibentuk secara luwes; semen. Keramik >< konblok haluskan dengan semen. Aspal dan trotoar, semen. Bagaikan serbuk ajaib yang bisa menambal dan menghubungkan material apapun! Dalam perjumpaan dua material utama, hadirnya semen sebagai material yang menjadi tuan rumah suatu perjumpaan merupakan penyelesaian suatu pertikaian dengan pemaksaan oleh pihak ketiga, supaya pihak yang berkonflik mau berdamai.

Sampai kapan?

Budaya?
Menurut pemikiran saya, keahlian mempertemukan dua material yang berbeda supaya dapat berjumpa secara meriah merupakan salah satu kemampuan menyelesaikan konflik. Dua material dengan kebutuhan berbeda, sifat berbeda dipertemukan dengan baik ialah penyelesaian suatu konflik.

Dalam budaya apapun, tak dapat dipisahkan dari kata kerja ‘membangun’ terutama membangun suatu bangunan sebagai tempat perlindungan. Pasti setiap manusia membangun, lapis demi lapis material. Material demi material. Ketika dalam proses panjang manusia yang terus membangun, mengolah material manusia tidak biasa ataupun membiasakan diri mengolah hubungan antar material. Tentunya perlahan berdampak menjadi suatu budaya. Budaya penyusunan material suka-suka, sekadar tercapainya fungsi, mengesampingkan tiap-tiap material mempunyai potensinya masing-masing.
hhmm...
 Ketika perlakuan pada material pun sesukanya sendiri, maka manusia pun akan mempunyai pola pikir yang senada pada suatu perbedaan dalam skala yang lebih kompleks, yaitu kehidupan sosialnya. Entah benar atau tidak, atau hanya nyrempet saja. Tapi saya percaya ada hubungannya, manusia memperlakukan material yang penting asal poles manis, berfungsi, begitu juga pada konflik antar manusia.

Jangan-jangan kita perlu membiasakan diam sejenak dan bertanya pada pasir, bata, ataupun batako, “Hei, kamu maunya digimanaain sih?” demi keberlanjutan kemanusiaan yang dapat memanajemen konflik secara lebih baik.

Dan terjadilah transformasi desain.

-Eigner-

0 comments:

Post a Comment