2017-03-22

kayu dan gergaji


yang disebut kayu itu sebenarnya hanyalah bagian tertentu saja dari suatu batang pohon.
ia adalah bagian terkerasnya.
ia diberi perhatian dan dikhususkan oleh manusia, setelah mereka melihat kegunaannya: ia bisa difungsikan oleh manusia untuk menjadi bahan pembuatan alat-alat kehidupan sesehari mereka.

jadi,
dari mulanya, memang manusia sudah naksir pada pohon dan bagian-bagiannya.
mereka sudah penuh rencana untuk menguasai alam dan memanfaatkannya bagi kebahagian mereka [manusia] sendiri.
memilih kayu sebagai bahan adalah menempatkan kayu sebagai material: suatu calon, bakalan, yang kelak akan menjadi sesuatu. oleh sebab itu juga ia dinamai material karena mengandung kata mater di dalamnya, yang artinya adalah ibu: asal dari segala sesuatu.

bila di hutan ia disebut pohon,
di toko besi disebut kayu [dengan berbagai variannya, tergantung bentuk dan ukuran] maka setelah terangkai dalam sebuah rumah, ia dinamai reng, usuk, blandar, saka, dsb.
lihatlah,
bagaimana material yang bernama kayu itu “lenyap” dan darinya lahirlah berbagai unsur dari rumah yang punya nama sendiri: reng, usuk, blandar, saka dsb. juga menjadi patung dewa-dewi, orang-orang suci, tempat duduk, meja, tempat tidur dan berbagai peralatan rumah tangga manusia.

agaknya alam memang begitu: adalah ibu, yang mengurbankan diri dengan melenyapkan diri sendiri untuk menjadi sesuatu yang lain bagi manusia.
hutan menjadi taman, air terjun menjadi sarana rekreasi, danau menjadi sumber air konsumsi maupun membersihkan diri...

tapi bencana alam juga dimulai dari sana. ketika alam diperlakukan sebagai “bahan mentah” saja bagi kebutuhan manusia, maka alam dikuras habis-habisan oleh manusia.

hal yang sebenarnya sudah dari dulu berlangsung disadari orang. ada yang sudah sadar untuk menghemat. misalnya, kayu untuk diperlakukan sebagai tiang, yang semula prosesnya pendek -tebang dikeringkan lalu dipasang- maka kemudian ada kebutuhan untuk menghematnya sehingga perlu digergaji dulu. dipotong-potong dalam ukuran tertentu sehingga satu batang pohon bisa menjadi beberapa tiang, malah sisanya bisa menjadi reng, usuk dan lain-lainnya.

cara untuk menghematnya adalah dengan teknologi peralatan, contohnya adalah gergaji tadi.
gergaji, adalah alat temuan manusia yang lahir dari kesadaran untuk menghemat konsumsi kayu. dengan munculnya gergaji, maka muncullah papan kayu yang bisa dirangkai menjadi bidang dinding, lantai juga lemari dan berbagai perabot lain.
ini elemen yang luwes untuk diubah jadi apa pun.

ternyata di dunia ini tidak banyak ragam gergaji.
konon ada dua versi gergaji: versi jepang dan versi lainnya.
dalam versi jepang gergaji itu membelah ketika kita menariknya. sementara, gergaji lain membelah ketika kita menekan atau mendorongnya.
dengan cara menarik, maka bilah gergaji jepang bisa tipis sehingga proses membelah kayu di jepang bisa lebih ringan dan menghasilkan lembaran-lembaran yang lebih tipis pula.

sabtu nanti kita akan melihat-lihat bagaimana papan-papan kayu diperlakukan oleh rama yb. mangunwijaya pr. dalam membangun rumahnya.
rumah di jalan kuwera ini menggunakan banyak sekali papan kayu,
bukan balok-balok kayu.
papan diolah dalam berbagai kombinasi sehingga menjadi tiang, balok maupun papan lantai.
saya duga, rama mangun punya keinginan untuk menghemat penggunaan kayu itu.
selain juga, untuk memudahkan tukang dalam bekerja, sebab dengan satu jenis elemen arsitektur [papan] tinggal diubah komposisi, dan dimensinya, ia berubah jadi tiang, balok, lantai maupun dinding.

kita akan sepedaan - sabtu 25 maret 2017- dari kampus ke pendhapa samirana, rumah kuwera, menyusuri selokan mataram, hingga ke gereja katolik jetis yang adalah juga karya rama mangun.

kegiatan yang diberi tema “dari kayu ke kayu” ini diselenggarakan oleh komunitas sepedaan dutayantra. silakan bergabung...

0 comments:

Post a Comment