Skip to main content

keberpihakan : sebuah pilihan atau keharusan?

Mengikuti perjalanan Duta Yantra selalu ada saja yang mengesankan untuk dibawa pulang. Perjalanan duta yantra kali ini (25032017) dengan tema 'dari kayu ke kayu'. Salah satu tujuannya kami menyambangi Rumah Kuwera karya Romo Mangun. Saat mendengarkan pengantar dari Pak Mahatmanta tentang Rumah Kuwera, salah satunya bahwa karya Romo Mangun ini merupakan wujud keberpihakan beliau terhadap tukang. Rasanya residu-residu ingatan pada awal kuliah dulu serasa dibangkitkan kembali. 'Keberpihakan' sebuah kata sederhana tapi sangat dalam artinya, sebuah kata yang lama tak [saya] dengar.


Setelah mendengar pengantar dari beliau kami pun dilepas untuk menyusuri ruang-ruang rumah Kuwera. Pengaturan ruang-ruang yang (orang jawa bilang) pating clekunik. Rumit memang, selalu ada kejutan di setiap ruang. Kami disuguhi oleh keindahan detail, tektonika material, sambungan-sambungan struktur kayu yang 'tidak biasa', sungguh pengalaman ruang yang mengesankan.
Jadi penasaran, merancang sebuah bangunan seperti menggunakan gambar rencana tidak ya..?  saya duga mungkin awalnya gambar sketsa konsep, dan semuanya banyak diselesaikan di lapangan. Tentu saja bekerjasama dengan pelaksana di lapangan yaitu tukang. Tukang yang notabene kadang dianggap seseorang yang kecil/wong cilik, tapi tidak dalam kasus rumah ini, disini tukang benar-benar 'diuwongke'.



Mengamati setiap detail di rumah Kuwera serasa kita merasakan dialog antara si perancang dengan tukang, bagaimana perancang dalam memperlakukan dan mengapresiasi material sesuai dengan karakter dan kodratnya. Pertemuan sudut-sudut ruang, pertemuan material yang berbeda semua disiasati dan diselesaikan dengan harmonis. Tentu saja hal ini menuntut kepekaan perancang terhadap karakter material, terhadap keunikan site, terhadap kemampuan si tukang, dan yang pasti perancang selalu terlibat dalam setiap prosesnya.


Sebagai perancang sering dihadapkan terhadap pilihan-pilihan : keberpihakan terhadap klien, terhadap tren yang lagi nge'hits, terhadap penguasa/si empunya regulasi, terhadap pelaksana/tukang, terhadap teknologi bahan, terhadap ego dari si perancang ataupun bahkan terhadap semesta. Ya, semua itu adalah pilihan. Mungkinkah semua keberpihakan itu terpenuhi dalam satu desain. Belajar dari ini semua keberpihakan terhadap sesuatu yang [sering dianggap] cilik, kaum papa, marjinal, terpinggirkan merupakan sebuah pilihan yang tidak mudah. Ada banyak hal berharga yang [mungkin harus] dipertaruhkan. Arsitektur untuk kemanusiaan, untuk siapa saja, dimana saja, untuk saat ini akankah menjadi tujuan bersama, sebuah keharusan, ataukah ini hanya sebuah pilihan..? sungguh merindukan perpaduan kehidupan yang harmonis. Bukankah hidup hendaknya bisa menjadi berkat untuk [orang] yang lain...? :)
-Jogja,01042017-

salam,
tutunseliari

Comments

  1. JOIN NOW !!!
    Dan Dapatkan Bonus yang menggiurkan dari dewalotto.club
    Dengan Modal 20.000 anda dapat bermain banyak Games 1 ID
    BURUAN DAFTAR!
    dewa-lotto.name
    dewa-lotto.com

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

ngepit atau pit-pitan?

Ngepit atau pit-pitan? Ada judul serupa ditulis di kompasiana pada tahun 2015 , dan di tulis ulang di suatu blog pada 2016 . Tulisan tersebut menjelaskan beda ngepit dan pit - pitan yang kemudian menekankan pada kebijakan segosegawe yang direspon secara pit-pitan bukan ngepit seperti yang diharapkan pada semangat segosegawe. Segosegawe sudah punah tapi semangat ngepit atau pit-pitan tetap ada. Suatu hal unik, perulangan kata benda menjadi suatu kata kerja. Mobil-mobilan artinya mainan yang menyerupai mobil, omah-omahan berarti benda yang menyerupai rumah, sedangkan kata pit-pitan berarti kegiatan bersepeda. Setuju ya, arti ngepit dan pit-pitan itu sama bahwa dalam proses perpindahan tempat menggunakan moda transportasi sepeda, juga pasti setuju, nuansa kata ngepit lebih serius daripada nuansa kata pit-pitan. Saya sendiri lebih melihat ngepit dekat dengan kata travel to, sedangkan pit-pitan lebih dekat dengan kata journey. Ngepit mempunyai arti yang lebih dekat k...

melihat yang lama secara baru

​artifak dari masa lalu selalu kita pandang dari masa kini. dan berbagai kepentingan ikut mewarnai cara kita memandang dan memanfaatkannya. bagi seorang ilmuwan, artifak atau barang dari masa lalu itu adalah jejak-jejak untuk ia membuat rekonstruksi imajiner mengenai suasana dan kondisi masa lalu di mana barang atau artifak itu pernah hadir. sabtu pagi 08 april 2017, mulai pukul 06:00 WIB kita akan sepedaan melihat bagaimana orang masa kini memperlakukan kampung, kota dan bangunan yang dibuat orang di masa lalu untuk kepentingan masa itu. namun yang kita lihat adalah yang telah mengalami perbaikan dan penyesuaian di masa kini. untuk dijadikan komoditas orang masa kini. kita perlu tahu masa lalu, namun janganlah itu menjerat kita hingga tidak bisa maju. dan jangan lupa, bersepeda itu pantang mundur: selalu bergerak maju! -- mahatmanto duta wacana

tersesat di wisma kuwera

“Nek wong sing duwe short term memory elek, ning kene iso ra nemu dalan metu ki” Kalimat tersebut diungkapkan Rizal kepada saya setelah separuh jalan blusukan di dalam wisma Kuwera. Memang menurut saya, peletakan ruang yang ‘aneh’ pada bangunan tersebut memberikan potensi keblasuk bagi orang baru yang dibebaskan berkeliling semaunya di Kuwera. Haha… Tentunya sang perancang memiliki kemampuan spasial yang hebat! Pastinya.. Sejuk, dingin, hangat. Begitulah berbagai ruang yang terbentuk di wisma ini. Sejuk,  dapat mudah dirasakan di bagian ruang paling bawah dan ruang diatas dekat dengan bukaan. Hangat, tentunya nuansa yang di timbulkan oleh penggunaan elemen kayu, yang banyak digunakan dan sangat terasa di lantai atas. Lalu dingin? Dibawah tanah, yang konon katanya tempat untuk hening Romo Mangun jaman dulu. Perpaduan sejuk dan hangat merupakan ungkapan respon dari tropis. Karena di daerah tropis merupakan daerah yang tidak terlalu panas maupun dingin, maka...