2017-03-29

cokot-cokotan kayu

DARI KAYU KE KAYU
Duta Yantra 250317

Pada hari Sabtu, 25 Maret 2017 adalah kali ke 3 saya ikut berpetualang dengan sepeda bersama teman-teman Duta Yantra.
Episode kali ini diberi judul "Dari Kayu ke Kayu." Dari judulnya saja sudah bisa dipastikan bahwa obrolan kali ini adalah tentang material kayu.

Pada saat itu juga, kami kedatangan wajah-wajah baru (buat saya sih baru) yaitu beberapa teman mahasiswa Arsitektur UKDW angkatan 2014 dan 2016, dan dikarenakan ada teman-teman baru maka rute sepedaan edisi kalo ini tidak sejauh edisi sebelumnya.
[FYI edisi sebelumnya total 55km pergi-pulang, di situ saya merasa lempoh 😅]

Destinasi kami ada 3 yaitu: Pendapa di Samirono, Rumah Kuwera, dan Gereja Katolik St. Albertus.
Destinasi pertama kami adalah Pendapa du Samirono. Berhubung edisi kali ini saya telat agak lama, jadi pada waktu berada di pendapa saya ketinggalan & tidak kebagian cerita 😭

Destinasi selanjutnya adalah Rumah Kuwera, salah satu karya dari Rama Mangunwijaya.
Di tempat itulah kami belajar tentang kayu. Kayu, memiliki sifat yg unik, dia punya keterbatasan dalam hal panjangnya. Namun untuk menyiasati kekurangan tersebut, kayu membutuhkan kayu lain untuk menyambung, sehingga bisa lebih panjang lagi. Sambungan kayu pun memiliki 'kepribadian' yg menurut saya unik, mereka saling mengikat satu sama lain, saling mengunci supaya tidak terlepas, kadang-kadang kunci ini disebut oleh orang Jawa dengan 'cokot-cokotan' atau saling menggigit.
Kayu juga saling menopang satu dgn yg lainnya. Seperti halnya manusia yang sebaiknya saling menjaga & saling menopang.
Selain itu kami juga cukup dipusingkan dengan ruangan-ruangan yg tidak tipikal seperti bangunan pada umumnya. Pemikiran-pemikiran unik seperti inilah yg membuat Rama Mangun menjadi arsitek spesial di mata saya 👏👏

Setelah itu kami menuju Gereja Katolik st. Albertus di Jl. AM Sangaji. Bagian dari gereja ini kabarnya didesain oleh salah satu dosen UKDW yaitu Bp Eko Prawoto. Ada perbedaan style yg kami temukan di gereja tersebut, yaitu di bagian dalam gereja dan bagian ekstensi gereja yg terletak di sebelah selatannya.
Yang saya soroti di sini adalah cara menghubungkan antara kolom beton dgn struktur atap, beliau (sang arsitek) menempatkan baja sebagai penyambung antara beton (kolom) dengan kayu (struktur atap), dan ada ornamen seperti lambang gereja ortodoks di baja tersebut.

Baja itu menghubungkan 2 sifat, keras (beton) dan lunak (kayu) menurut saya. Selain itu ada juga jendela (bisa dibuka) yg kemungkinan memang dirancang untuk menghubungkan yang luar dan yang dalam.
Setelah itu kami mengakhiri sepedaan kami dgn minum es buah di Pakuningratan.
Kami pulang dan berencana untuk melakukan sepedaan lagi tgl 8 April 2017.

-baguspanglipur-

0 comments:

Post a Comment