Skip to main content

cokot-cokotan kayu

DARI KAYU KE KAYU
Duta Yantra 250317

Pada hari Sabtu, 25 Maret 2017 adalah kali ke 3 saya ikut berpetualang dengan sepeda bersama teman-teman Duta Yantra.
Episode kali ini diberi judul "Dari Kayu ke Kayu." Dari judulnya saja sudah bisa dipastikan bahwa obrolan kali ini adalah tentang material kayu.

Pada saat itu juga, kami kedatangan wajah-wajah baru (buat saya sih baru) yaitu beberapa teman mahasiswa Arsitektur UKDW angkatan 2014 dan 2016, dan dikarenakan ada teman-teman baru maka rute sepedaan edisi kalo ini tidak sejauh edisi sebelumnya.
[FYI edisi sebelumnya total 55km pergi-pulang, di situ saya merasa lempoh 😅]

Destinasi kami ada 3 yaitu: Pendapa di Samirono, Rumah Kuwera, dan Gereja Katolik St. Albertus.
Destinasi pertama kami adalah Pendapa du Samirono. Berhubung edisi kali ini saya telat agak lama, jadi pada waktu berada di pendapa saya ketinggalan & tidak kebagian cerita 😭

Destinasi selanjutnya adalah Rumah Kuwera, salah satu karya dari Rama Mangunwijaya.
Di tempat itulah kami belajar tentang kayu. Kayu, memiliki sifat yg unik, dia punya keterbatasan dalam hal panjangnya. Namun untuk menyiasati kekurangan tersebut, kayu membutuhkan kayu lain untuk menyambung, sehingga bisa lebih panjang lagi. Sambungan kayu pun memiliki 'kepribadian' yg menurut saya unik, mereka saling mengikat satu sama lain, saling mengunci supaya tidak terlepas, kadang-kadang kunci ini disebut oleh orang Jawa dengan 'cokot-cokotan' atau saling menggigit.
Kayu juga saling menopang satu dgn yg lainnya. Seperti halnya manusia yang sebaiknya saling menjaga & saling menopang.
Selain itu kami juga cukup dipusingkan dengan ruangan-ruangan yg tidak tipikal seperti bangunan pada umumnya. Pemikiran-pemikiran unik seperti inilah yg membuat Rama Mangun menjadi arsitek spesial di mata saya 👏👏

Setelah itu kami menuju Gereja Katolik st. Albertus di Jl. AM Sangaji. Bagian dari gereja ini kabarnya didesain oleh salah satu dosen UKDW yaitu Bp Eko Prawoto. Ada perbedaan style yg kami temukan di gereja tersebut, yaitu di bagian dalam gereja dan bagian ekstensi gereja yg terletak di sebelah selatannya.
Yang saya soroti di sini adalah cara menghubungkan antara kolom beton dgn struktur atap, beliau (sang arsitek) menempatkan baja sebagai penyambung antara beton (kolom) dengan kayu (struktur atap), dan ada ornamen seperti lambang gereja ortodoks di baja tersebut.

Baja itu menghubungkan 2 sifat, keras (beton) dan lunak (kayu) menurut saya. Selain itu ada juga jendela (bisa dibuka) yg kemungkinan memang dirancang untuk menghubungkan yang luar dan yang dalam.
Setelah itu kami mengakhiri sepedaan kami dgn minum es buah di Pakuningratan.
Kami pulang dan berencana untuk melakukan sepedaan lagi tgl 8 April 2017.

-baguspanglipur-

Comments

  1. JOIN NOW !!!
    Dan Dapatkan Bonus yang menggiurkan dari dewalotto.club
    Dengan Modal 20.000 anda dapat bermain banyak Games 1 ID
    BURUAN DAFTAR!
    dewa-lotto.name
    dewa-lotto.com

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

ngepit atau pit-pitan?

Ngepit atau pit-pitan? Ada judul serupa ditulis di kompasiana pada tahun 2015 , dan di tulis ulang di suatu blog pada 2016 . Tulisan tersebut menjelaskan beda ngepit dan pit - pitan yang kemudian menekankan pada kebijakan segosegawe yang direspon secara pit-pitan bukan ngepit seperti yang diharapkan pada semangat segosegawe. Segosegawe sudah punah tapi semangat ngepit atau pit-pitan tetap ada. Suatu hal unik, perulangan kata benda menjadi suatu kata kerja. Mobil-mobilan artinya mainan yang menyerupai mobil, omah-omahan berarti benda yang menyerupai rumah, sedangkan kata pit-pitan berarti kegiatan bersepeda. Setuju ya, arti ngepit dan pit-pitan itu sama bahwa dalam proses perpindahan tempat menggunakan moda transportasi sepeda, juga pasti setuju, nuansa kata ngepit lebih serius daripada nuansa kata pit-pitan. Saya sendiri lebih melihat ngepit dekat dengan kata travel to, sedangkan pit-pitan lebih dekat dengan kata journey. Ngepit mempunyai arti yang lebih dekat k...

melihat yang lama secara baru

​artifak dari masa lalu selalu kita pandang dari masa kini. dan berbagai kepentingan ikut mewarnai cara kita memandang dan memanfaatkannya. bagi seorang ilmuwan, artifak atau barang dari masa lalu itu adalah jejak-jejak untuk ia membuat rekonstruksi imajiner mengenai suasana dan kondisi masa lalu di mana barang atau artifak itu pernah hadir. sabtu pagi 08 april 2017, mulai pukul 06:00 WIB kita akan sepedaan melihat bagaimana orang masa kini memperlakukan kampung, kota dan bangunan yang dibuat orang di masa lalu untuk kepentingan masa itu. namun yang kita lihat adalah yang telah mengalami perbaikan dan penyesuaian di masa kini. untuk dijadikan komoditas orang masa kini. kita perlu tahu masa lalu, namun janganlah itu menjerat kita hingga tidak bisa maju. dan jangan lupa, bersepeda itu pantang mundur: selalu bergerak maju! -- mahatmanto duta wacana

tersesat di wisma kuwera

“Nek wong sing duwe short term memory elek, ning kene iso ra nemu dalan metu ki” Kalimat tersebut diungkapkan Rizal kepada saya setelah separuh jalan blusukan di dalam wisma Kuwera. Memang menurut saya, peletakan ruang yang ‘aneh’ pada bangunan tersebut memberikan potensi keblasuk bagi orang baru yang dibebaskan berkeliling semaunya di Kuwera. Haha… Tentunya sang perancang memiliki kemampuan spasial yang hebat! Pastinya.. Sejuk, dingin, hangat. Begitulah berbagai ruang yang terbentuk di wisma ini. Sejuk,  dapat mudah dirasakan di bagian ruang paling bawah dan ruang diatas dekat dengan bukaan. Hangat, tentunya nuansa yang di timbulkan oleh penggunaan elemen kayu, yang banyak digunakan dan sangat terasa di lantai atas. Lalu dingin? Dibawah tanah, yang konon katanya tempat untuk hening Romo Mangun jaman dulu. Perpaduan sejuk dan hangat merupakan ungkapan respon dari tropis. Karena di daerah tropis merupakan daerah yang tidak terlalu panas maupun dingin, maka...